Dipaksa Menghibur Meski Tersiksa

oleh: Rista Amelia

118
obleviete
ilustrasi: Nurul Ngaisah

Lumba-lumba (delphinus delphis) termasuk dalam kelompok hewan mammalia dari ordo cetacea dan termasuk famili delphinidae. Mamalia satu ini terkenal dengan kecerdasan, sifat sosial dan kemampuan akrobatik. Tingkah laku alamiah lumba-lumba ketika berenang di lautan lepas salah satunya melakukan Aerials yaitu dapat melompat tinggi, berbalik dan berputar di udara. Sangat disayangkan karena kecerdasannya, lumba-lumba banyak di manfaatkan untuk pertunjukkan atraksi.

Perlakuan terhadap mereka ketika pelatihan, pengangkutan, maupun ketika melakukan atraksi dapat dikatakan sebagai penyiksaan oleh penyelenggara sirkus. Selama perjalanan lumba-lumba hanya dibungkus dengan spon basah dan diolesi pelembab ataupun mentega agar kulit mereka tidak mengering terpapar udara. Setelah hal itu dilakukan mereka di tempatkan pada box seukuran tubuhnya dan diletakkan pada body truck bagian belakang.

Begitu miris kehidupan mereka, ruang geraknya sangat terbatas. Mereka menjalani hidup jauh dari layak tanpa pernah mengarungi lautan. Lumba-lumba dipaksa untuk patuh melakukan perintah dari pelatih untuk melakukan gerakan akrobatik yang nantinya akan disuguhkan kepada penonton. Seringkali mereka sengaja dipotong taringnya dan dilaparkan dengan tujuan supaya mereka patuh. Sepotong daging ikan, itulah pamrih yang didapatkan lumba-lumba.

Kolam pada pementasan lumba-lumba menjadi neraka bagi mereka. Kurang lebih dengan diameter 6 meter dan berkedalaman 3 meter ini diisi dengan air laut buatan. Penyelenggara membuat air asin dengan campuran air ledeng dan berton-ton garam,  serta senyawa pembunuh kuman (klorin) di campurkan dalam ke dalam air. Dalam hal ini sangatlah tidak manusiawi, karena kandungan klorin yang bersifat korosif dipastikan dapat merusak organ mata dan menyebabkan lumba-lumba menjadi rabun. Belum lagi pemutaran musik dengan suara keras terpaksa harus diterima pendengaran lumba-lumba yang sensitif. Masalah kebisingan tersebut mengacaukan pendengarannya dalam menangkap gelombang suara.

Oleh karena itu pegiat perlindungan satwa menetang pertunjukan sirkus lumba-lumba yang masih ada agar pemerintahan Indonesia bisa menghentikan penyelengaraan sirkus tersebut. Sampai saat ini Indonesia menjadi satu-satunya negara yang masih mengijinkan peragaan sirkus lumba-lumba. Beberapa tahun ini perhatian dunia tertuju pada kelestarian populasi cetacea. Hal ini disebabkan menurunnya populasi cetacea akibat pengaruh aktivitas manusia. Lumba-lumba kebanyakan ditangkap untuk dijual kepada pihak yang mengoperasikan sirkus lumba-lumba komersial. Dengan alasan konservasi pelaku bisnis ini terus melakukan usahanya.

Lumba-lumba ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Organisasi konservasi dunia Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini telah memasukkan populasi seluruh jenis cetacea dalam kategori  spesies yang menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat (critically endangered).