Panjang Umur Petani Indonesia!

oleh: Luqmanul Hakim

194
farmer
ilustrasi: @sv_lan1

Sore setelah kepulanganku ke kampung halaman, aku menyempatkan berkunjung ke ladang milik Mbah (kakek). Hamparan tanah luas dengan tanaman jagung yang mulai tumbuh menyambutku. Di galengan ladang miliknya, Mbah menyempatkan waktu untuk mencari suket teki untuk pakan ternaknya. Sedangkan petani lainnya terlalu sibuk mengurusi ladangnya sendiri, ladang yang menjadi kekayaan abadi kelak akan diwariskan pada anak cucu. Selesai dari tugasnya, saya dan si Mbah bergegas pulang karena hari sudah semakin sore.

Selepas sholat maghrib kami duduk di depan rumah ditemani singkong rebus dan kacang goreng. Sesekali ia menikmati rokok kretek di tangan kirinya. Mungkin dengan ini si Mbah melepaskan lelahnya setelah seharian mengurusi ladangnya. Ditengah perbincangan kami ia mengeluh, karena musim kemarin jagung yang ia tanam gagal panen, bukan hanya sebagian yang gagal untuk dipanen tapi seluruhnya. Saya bilang, “Asal nggak ladang yang dicuri, jagung dapat ditanam kembali, Mbah.” Ia khawatir dengan apa yang sudah ditanam kali ini. Tiap hari ia ke ladang untuk memastikan tanamannya baik-baik saja dan bersih dari rumput-rumput liar. Pagi hingga sore bergelut dengan tanamnnya ditemani terik matahari. Terkadang waktu siang si Mbah pulang untuk mengisi perut jika paginya tidak ada bekal untuk dibawa. Begitulah rutinitasnya.

Sembari ngobrol dengan si mbah, saya menggulirkan linimasa media sosial. Beberapa akun menyematkan tagar #JogjaDaruratAgraria, #STOPNYIA, dan sebagainya. Salah satu akun yang kerap membagikan ajakan solidaritas dan kondisi petani yang menolak proyek tersebut adalah @jogja_darurat_agraria, sampai saya menyelesaikan tulisan ini akun tersebut telah diikuti kurang lebih 12 ribu orang. Seluruh post yang diunggah akun tersebut mengenai penolakan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Sematan yang dibagikan akun tersebut salah satunya berisi tentang ucapan Sultan yang menanggapi berita tentang adanya beberapa mahasiswa yang ditahan dan mengaku mendapatkan tindakan kekerasan. Selain itu Sultan juga menyatakan bahwa 38 rumah yang dihancurkan sudah tak berpenghuni. Dari sematan tersebut, sebanyak 467 komentar yang ditulis warganet terdapat beberapa komentar untuk menanggapi omongan Sultan yang dinilai menyindir mahasiswa.

Sekilas saya membayangkan bagaimana jika hal tersebut menimpa Mbah. Gagal panen saja ia sedih, apalagi jika dipaksa untuk kehilangan ladangnya. Menurut saya, bukan hanya Mbah saja yang sedih jika ladangnya dicuri secara paksa, seluruh petani juga tak akan mau. Alasannya karena menjadi petani sudah menjadi profesi turun temurun di keluarganya. Hanya dari tanah yang menjadi harapan dari dulu hingga kini. Seluruh penghidupan keluarga berputar dari hasil tani. “Nanti saya nurunin apa ke anak cucu, nduwene mung lemah tok, le….” Mungkin itu kiranya jawaban para petani kalau ditanya mengenai penggusuran lahan untuk proyek negara.

Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Disini ketika Mbah  masih bisa menantikan hasil panennya, di tempat lain petani yang dibeli hartanya secara paksa merasa dijajah di negara sendiri. Tanah yang selama ini menjadi sumber hidup sehari-hari telah diambil oleh orang yang lebih berkuasa. Selamanya akan terus tedapat pembangunan dari setiap daerah, pilihannya hanya dua, mempertahankan atau kehilangan. Orang lain akan sibuk menyiapkan resolusi untuk menyambut tahun baru, sedangkan pemahaman petani untuk mempertahankan ladangnya tidak akan berubah. Bagi mereka tanah adalah abadi, sedangkan uang ganti rugi adalah fana. Kalau aktivis mahasiswa akan mengutip ucapan Pak Dhe Pramoedya jika abadi adalah dengan menulis namun petani akan tegas menyuarakan abadi adalah dengan mempertahankan tanah miliknya. Apresiasi setinggi-tingginya untuk petani Indonesia, semesta mendukungmu. Bahagia selalu petani. Panjang Umur Petani Indonesia!

Lamongan, 9 Desember 2017