Perlindungan Satwa dari Ancaman Kepunahan

73

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, salah satu diantaranya adalah kekayaan flora dan fauna. Terdapat banyak jenis satwa endemik yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Satwa merupakan segala macam jenis sumber daya alam hewani yang berasal dari hewan yang hidup di darat, air, dan udara (dikutip dari Dirjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam:1993). Menurut UU no 5 tahun 1990 pasal 20 ayat 2 definisi dari satwa yang dilindungi adalah satwa yang populasinya jarang atau yang berada dalam kepunahan. Adapun pengertian satwa liar ialah segala jenis hewan yang hidup di darat, air, dan di udara yang masih mempunyai atau mempertahankan sifat-sifat liarnya, baik yang hidup di alam bebas maupun yang sudah dipelihara oleh manusia.

Protection of Forest and Fauna (Profauna) merupakan organisasi independen non profit berjaringan internasional yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar. Bidang kegiatan utama Profauna meliputi kampanye/advokasi, pendidikan, perlindungan satwa liar, perlindungan hutan dan pendampingan masyarakat lokal (www.profauna.net). “Berbicara tentang perlindungan satwa di Indonesia maka ini lingkupnya akan sangat luas, karena berbicara mengenai ancaman,” ungkap Rosek Nursahid, saat ditemui di P-WEC, Jumat (13/04/2018) siang.

DSC_0184_1
foto: dokumentasi BP 4 2017

Sirkus hewan menjadi salah satu kegiatan lain yang termasuk dalam eksploitasi satwa. Dimana dalam dunia Internasional banyak negara yang sudah melarang pentas sirkus dengan atraksi satwa. Hal ini tertuang dalam Universal Declaration Of Animal Welfare (UDAW) yang melarang pemanfaatan satwa untuk melakukan atraksi-atraksi sirkus. Sangat disayangkan konvensi tersebut belum diratifikasi di Indonesia. Indonesia masih mendasarkan pada UU No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam beserta aturan pelaksanaannya.

DSC_0193_1
foto: dokumentasi BP 4 2017

Rosek Nursahid menjelaskan saat ditemui tempo hari, “sebenarnya di Indonesia ini belum ada aturan baku mengenai perlindungan satwa, ketika kita berbicara mengenai hukum, sebenarnya boleh (memelihara) tapi ada aturannya. Cuma kalau kita bicara dampaknya terhadap satwa atau animal sircus itu tidak sekedar berbicara hukum tapi juga berbicara soal etika. Karena dari fakta yang ada, satwa yang dibuat sirkus akan dilatih dengan kejam dan memakai kekerasan.  Kondisi seperti itu akan dilakukan secara terus menerus selama bertahun-tahun. Hingga dari bawah alam sadar binatang akan selalu menuruti apa kata pelatih.”

Menurut penjelasan pendiri Profauna tersebut, ada dua hal yang mengganggu kelestarian satwa yang ada di Indonesia. Diantaranya faktor kerusakan habitat yang merupakan tempat tinggal utama hutan yang beralih fungsi menjadi non hutan (deforestasi). Ia menjelaskan dampak dari kegiatan deforestasi atau alih fungsi hutan ini membuat banyak satwa liar yang akan kehilangan habitatnya. Selain itu adalah faktor perburuan dan perdagangan satwa liar  yang berdampak langsung pada jumlah populasi satwa yang diburu. Ia menambahkan hal tersebut akan mengganggu keseimbangan dari ekosistem alam.

DSC_0197_1
foto: dokumentasi BP 4 2017

“Jadi dua faktor ini akan mempengaruhi ketika kita berbicara tentang perlindungan satwa liar. Secara umum kami menilai, bahwa Profauna memang masih belum maksimal dalam upaya perlindungan satwa liar karena masih harus ada perbaikan yang terus menerus dan lebih giat lagi untuk mengurangi ancaman-ancaman yang berhubungan dengan perlindungan satwa,” tambahnya.

DSC_0162_1
foto: okumentasi BP 4 2017

Kerusakan hutan menjadi penyebab utama yang mengancam perlindungan satwa. Terlebih dengan adanya deforestasi hutan yang membuat rumah satwa semakin hilang. Deforestasi di pulau Jawa seringkali mengancam hutan lindung untuk perladangan. Sedangkan di luar pulau Jawa, banyak hutan yang beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.  Meski berbeda, namun dampak yang ditimbulkan tetap sama yakni kerusakan habitat satwa. Perdagangan dan perburuan satwa liar menjadi ancaman serius terutama untuk jenis-jenis satwa endemik. Ketika satwa tersebut  ditangkap, diperdagangkan dan dijualbelikan di daerah tertentu maka populasinya akan berkurang dan rentan terjadinya kepunahan.

Penanganan satwa pasca tereksploitasi dapat dilakukan dengan rehabilitasi satwa. Namun rehabilitasi satwa merupakan kegiatan dengan biaya yang mahal dan proses yang sulit. Rosek Nursahid menegaskan bahwa Profauna belum pernah mengetahui jika satwa yang ada di kebun binatang direhabilitasi untuk dilepas di alam liar. Bagi Profauna keberadaan kebun binatang di Indonesia lebih untuk kepentingan komersil dibanding dengan tindakan konservasi.

Penulis: Lisa Deni