Selamat Bertoga, Temanku

154
ilustrasi: pexels
ilustrasi: pexels

Berbahagialah kalian wahai teman-temanku yang besok akan diwisuda. Saya tak pernah iri dengan kalian yang sudah mencapai kesuksesan yang kalian dapat. Karena kesuksesan itu kalian dapat dari usaha keras kalian sendiri. Saya juga ikut senang ketika melihat kalian bisa berfoto bersama keluarga, teman, pacar, mantan sampai suami tetangga yang jadi selingkuhan. Maaf saya ngelantur, intinya saya bangga dengan kalian.

Namun kebahagian itu saya simpan rapat-rapat, karena terkadang kebanggaan bisa menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Bayangkan jika saya datang ke wisuda kalian, kemudian muncul sebuah bencana alam dalam bentuk pertanyaan: “Kamu kapan nyusul pakai toga?”.

Maafkan temanmu ini yang tak datang di hari bahagia kalian. Hari dimana kalian hanya akan duduk berbaris menunggu proses pemindahan tali toga dari kiri ke kanan, ah atau kanan ke kiri. Itu tidak penting bagi saya, yang penting kamu tidak pindah ke lain hati, dek.

Maafkan temanmu ini yang tak bisa menunjukkan solidaritas di hari kebahagiaan kalian. Saya cukup memantau timeline Instagram kalian sembari mengumpat. Daripada saya datang untuk menunjukkan solidaritas, berfoto bersama kalian, namun di dalam hati saya nelangsa melihat kalian wisuda lebih dulu. Lagi-lagi umpatan keluar dari mulut saya.

Saya hanya menghindari pertanyaan, “Kapan nyusul?”. Bukan lari dari kenyataan. Sumpah ini bukan pledoi. Pertanyaan “Kapan nyusul?” kadang bisa merubah psikologi seseorang yang belum lulus. Tapi ada dua kemungkinan perubahan psikologi; semangat menyusul dan menjadi stress. Dan saya adalah seseorang yang gampang stress jika berhadapan dengan pertanyaan tersebut.

Sekali lagi maafkan temanmu ini yang tak pernah datang ke hari wisuda kalian, berfoto dengan kalian, tertawa dengan kalian. Saya hanya tak mau merusak masa bahagia kalian. Saya juga tak pernah berpikir untuk mengundang kalian untuk datang pada hari dimana saya akan diwisuda, hari yang entah kapan itu akan terjadi. Maaf saya tak pernah meghadiri undangan kalian untuk bersenang-senang merayakan kelulusan. Maaf sekali, saya terlalu lemah untuk mengamini kebahagiaan setelah lulus.

Tapi, perjuangan setelah lulus belum berakhir wahai kawan-kawanku yang sudah mendapat gelar sarjana. Perjuangan akan lebih berat, kekejaman negara adalah pintu pertama yang harus dilewati. Negara lebih kejam daripada dosen pembimbing yang menjadikan kertas revisi kalian sebagai bungkus nasi kucing di kantin depan kampus. Negara lebih mengerikan daripada pemandangan mantan yang masih kita sayang sedang berboncengan dengan pacar barunya. Negara lebih suloyo dibandingkan ditinggal selingkuh gebetan. Negara juga lebih kebal terhadap berbagai kritikan dan Negara yang akan menuntut kita untuk memilih menjadi kelas atas atau kelas bawah. Sungguh mengerikan bukan?

Wisuda adalah keniscayaan, tapi hidup tak semudah memindahkann tali toga. Saya juga tidak sedang menasehati, saya bukan motivator kawakan yang biasa mengais uang dari kesusahan orang lain. Saya hanya mahasiswa yang selalu membayangkan bahwa kampus adalah replika negara yang mengajarkan bagaimana caranya untuk menghadapi negara yang sebenarnya. Tapi sekarang, negara dan kampus tak ada bedanya sih. Merebut hak rakyatnya tanpa berpikir panjang.

Wisuda adalah sebuah kesenangan yang sementara, seakan kita sedang mastrubasi sambil membayangkan kesuksesan masa depan. Memberikan kenikmatan lewat medium yang dimainkan sendirian. Setelahnya hidup akan dijalani seperti biasa, begitu dan berulang. Tapi wisuda adalah sebuah keharusan, agar bisa keluar dari ruang yang disebut sebagai replika negara menuju negara yang sebenarnya. Menjadi masyarakat seutuhnya.

Wahai kawan-kawanku yang besok diwisuda, saya ucapkan selamat untuk kalian semua. Percayalah bahwa kalian sudah berhasil melewati satu tahap untuk menjadi masyarakat yang seutuhnya. Percayalah bahwa kebahagiaan kalian ketika wisuda tak pernah sia-sia. Dan satu lagi, percayalah bawa saya akan menyusul sebagai seorang wisudawan dan menjadi masyarakat seutuhnya. Tapi entah kapan, karena wisuda adalah kesunyian masing-masing.

Dari temanmu yang belum diwisuda.

Lamongan, 10 November 2017