Sosok Ibu Di Balik AFD

203
teatrikal panitia AFD
Teatrikal panitia AFD disela berlangsungnya acara, Sabtu (07/04/2018) siang. Dialog berjudul Saat yang Terhimpit memerankan konflik antara mahasiswa dengan oknum diktator. (foto: dokumentasi panitia)

lpmapi.com, Malang – Minimnya waktu persiapan bukan masalah berarti bagi panitia dalam melangsungkan kegiatan bertajuk Asia Fun Day, Sabtu (07/04/2018) pagi hingga siang.  Kegiatan ini diawali dengan fun walk , dilanjutkan senam pagi di halaman STMIK Asia. Tampak seluruh elemen kampus turut serta dalam kegiatan  ̶mahasiswa, dosen, karyawan, hingga jajaran birokrat. Kegiatan yang melibatkan BEM dan pihak Perguruan Tinggi tersebut juga memberikan penghargaan organisasi terbaik yang jatuh kepada Himapro Akuntansi.

Sejumlah panitia mengatakan ada sosok berharga dibalik suksesnya kegiatan. Ia adalah Puji Subekti, dosen STMIK Asia yang juga masuk dalam struktur kepanitiaan. Menurut Ajeng Donna Citra selaku sie acara, dalam keadaan apapun bu Puji mampu mendampingi panitia. “wah terbaik, is the best. Sosok ibu banget,” ungkap Donna saat ditemui usai kegiatan. “bu puji kemarin sempat nangis, tapi kita nggak tau karena apa,” tambahnya

Saat disinggung terkait keterlibatannya dalam pekerjaan panitia, bu Puji terlihat sedikit malu untuk menjawabnya. “ya artinya kalau bicara tentang kepemimpinan, misalkan kita hanya nyuruh-nyuruh, seperti itu kan ngga boleh, itu namanya diktator. yoweslah kita kerja bareng aja,” ungkapnya sambil tersenyum.  Meski diakuinya cukup melelahkan, bu Puji menuturkan bahwa rasa lelahnya telah terbayarkan dengan suksesnya acara.

Turut memeriahkan acara, aksi teatrikal dari panitia AFD mampu mencuri perhatian. Pertunjukan teater tersebut menggambarkan keadaan sosial yang dialami mahasiswa. Muhammad Nizard Syahrur Ramadhan, sebagai pemeran oknum diktator, sedangkan peran mahasiswa diperankan oleh Saifur Rauuf.

“Oke, mahasiswa sudah menuruti perintah, tapi masih saja aku salahkan. Aku salahkan pula pemikiran mahasiswa yang tak sejalan denganku. Bahkan aku sampai menyinggung perasaan, karena dalam peran tadi Rauuf saya jundu (mendorong kepala) sambil mengatakan, ‘utek mu gawe en’ (pakai otak kamu). Wajar memang kalau mahasiswa itu tadi nggak terima dan kita pun berkelahi. Sambil menendangi oknum, teatrikal tadi sedikit menyampaikan puisi karya Gus Mus berjudul Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana,” tutur Nizard menceritakan teatrikalnya.

Pemeran mahasiswa meluapkan kemarahannya dengan menenggelamkan kepala oknum ke dalam bak air. Setelahnya mahasiswa mencelupkan sendiri kepalanya ke dalam bak air yang sama  ̶dalam cerita itu tampak mahasiswa ingin sama-sama merasakan. Setelah saling menyadari, akhirnya kedua peran itu berjabat tangan dan berpelukan.

Penulis: Rosandi Hafi