Tak Lagi Berkutu (?)

55
Tak Lagi Berkutu (?)

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa Hari Buku ini juga bertepatan dengan hari peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 17 Mei 1980. Tulisan berjudul “Amnesia Buku” oleh Haidar Bagir (dilansir Harian Kompas 28/04/2016), menjelaskan bahwa hasil studi deskriptif yang dilaksanakan Central Connecticut State University, AS,  Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya. Bahkan jauh di bawah Singapura dan Malaysia.

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat. Mulai dari faktor ekonomi, media digital, akses untuk membaca, dominasi budaya tutur, ketersediaan SDM di bidang perpustakaan yang masih kurang, hingga rendahnya industri penerbitan di Indonesia. Menurut pendapat Abdurrahman Sofyan S.Pdi., salah satu pengelola wisma literasi “Kalimetro”, rendahnya industri penerbitan dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah dalam mengapresiasi industri penerbitan buku. “Minat baca yang rendah, berarti pengetahuan kita rendah,” ungkap pria asal Jakarta tersebut, Selasa (03/05/2016)

Dalam budaya digital kita mengenal PC atau laptop yang menawarkan kecepatan tinggi dalam mengakses informasi yang ada di internet. Padahal dari segi kesehatan, membaca buku dari media digital dapat berdampak buruk. Apalagi, ketika telepon pintar berlayar kecil telah mulai mengambil alih fungsi laptop maupun tablet sebagai sarana informasi. ”Semakin konsumtif, masyarakat semakin ingin yang simpel dan mudah,” ujar Abdurrahman.

Menurut Lutfi J. Kurniawan, pengelola salah satu penerbitan di kota Malng, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab rendahnya minat baca adalah budaya lisan yang melekat dengan masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan, bahwa memang pola pendidikan di Indonesia tidak menekankan kepada penulisan. “Dari dokumentasi-dokumentasi yang ditulis dapat menjadi aset untuk menjadi tonggak perubahan peradaban dan kemajuan. Budaya lisan yang terlalu melekat, masyarakat telah masuk dalam budaya audio-visual (TV dan radio) dan secara tidak langsung membawa masyarakat larut dalam budaya digital,” tambahnya.

Terkait media digital, Santoso S.Sos. (40), pustakawan Perpustakaan Umum Kota Malang menjelaskan, kembali lagi kepada generasi muda dalam memanfaatkan sarana yang ada. Misalnya smartphone, kita harus mendorong untuk memanfaatkan ke arah yang positif. Ia berpendapat, menyangkut hak cipta dan beredarnya e-book juga masih menjadi keterbatasan.

Dukungan dari pemerintah yang menyandang peran pengembangan pendidikan dan budaya yang kondusif bagi peningkatan literasi sangat dibutuhkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan kurikulum baca-tulis secara khusus. Santoso juga berpesan kepada generasi muda bahwa selain kesadaran akan pentingnya membaca, mereka juga harus membagi bacaan itu, baik itu isi bacaan maupun bukunya. “Paling tidak luangkanlah waktu sehari untuk membaca,” ungkap Santoso.

”Sebenarnya program dari Perpustakaan Nasional sudah bagus. Hanya saja dari kesiapan sumber daya yang ada di lapangan masih kurang mumpuni. Yang dimaksud adalah orang-orang yang kompeten di bidang ilmu perpustakaan memang masih kurang,” ungkap Vibryan Iddo Pristantya A.Md., salah satu pustakawan Kampus Asia Malang. Faktor pertama, dari ketersediaan perguruan tinggi di Malang yang menyediakan program studi ilmu perpustakaan memang masih kurang. Faktanya perguruan tinggi yang menyediakan jurusan ilmu perpustakaan hanya ada di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya Malang. Faktor kedua, dari minat lulusan sekolah menengah yang mengarah ke ilmu perpustakaan juga masih tergolong kurang jika dibandingkan kebutuhan di lapangan.

“Dilihat dari grafik data peminjaman koleksi buku yang ada di perpustakaan Kampus Asia rata- rata mencapai 50 sampai 80 peminjam tiap harinya. Terutama pada hari Sabtu dan Minggu, perpustakaan dipenuhi pemustaka mahasiswa kelas karyawan (eksekutif),” ungkap Iddo.

Iddo menjelaskan bahwa pemberlakuan denda di perpustakaan Kampus Asia adalah untuk meningkatkan kesadaran pemustaka dalam meminjam buku dan untuk melindungi hak pemustaka yang lain. Di perpustakaan Kampus Asia juga menyediakan fasilitas konsultasi bagi pemustaka yang ingin bertanya. Baik tentang koleksi buku, materi perkuliahan, ataupun materi skripsinya. “Petugas siap membantu,” tegasnya.

Perkembangan Minat Baca

“Sebenarnya minat baca kita nggak rendah kok. Yang rendah itu kepedulian orang yang punya buku untuk meminjamkan bukunya kepada orang lain. Dan akhirnya menganggap orang lain itu tidak membaca. Rendahnya minat baca karena memang tidak ada yang dibaca. Kalaupun ada, perpustakaannya jauh. Coba kalau pemerintah membuat perpustakaan di setiap desa. Pasti minat baca meningkat. Pasti banyak orang yang mau membaca, dengan catatan gratis, bukan untuk menyewa, ” kata Eko Cahyono (36).

Eko, warga asli Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang adalah pemilik perpustakaan “Anak Bangsa” yang ada di Sukopuro. Alasan Eko mendirikan perpustakaan adalah karena ia suka membaca dan ingin agar orang lain suka membaca. Eko mengungkapkan, bahwa minat baca di Desa Sukopuro cukup tinggi, yang beranggotakan lebih dari 8000 anggota. Tak terkecuali mulai dari anak anak PAUD sampai kalangan bapak-bapak dan ibu rumah tangga. “Saya membuat nama-nama sendiri untuk mengkategorikan buku-buku koleksi saya. Tujuan saya agar orang-orang kampung tertarik untuk membacanya,” ujar Eko (36) saat ditemui di Perpustakaan Komunitas “Anak Bangsa”, Minggu (01/05/2016) sore. Menurut Eko, sistem katalog seperti perpustakaan pada umumnya, tidak cocok untuk perpustakaan komunitas seperti miliknya karena masyarakat desa tidak mempedulikan hal itu. Walaupun Eko mengaku bisa membuat katalog, tetapi beliau enggan untuk membuatnya. Bagi Eko yang terpenting adalah bisa menarik minat baca masyarakat. Oleh karena itu, ia memberinya nama-nama yang menarik, seperti Pintu Surga, Super Tegang, Kutu Buku, Campur-Campur, dan lain-lain.

“Menurut saya, walaupun perkembangan teknologi media digital semakin pesat, tidak akan menggusur yang namanya buku. Kenikmatan membaca buku jauh berbeda dengan membaca buku di media digital,” tegas Eko Cahyono yang sudah tiga kali menjadi bintang tamu di acara Kick Andy.

Dilihat dari perkembangannya, minat baca di Kota Malang sudah mulai membaik, terbukti dengan mulai banyaknya Taman Baca Masyarakat (TBM) di berbagai sudut kota. Hal tersebut merupakan salah satu program perpustakaan nasional untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Penulis: Rosandi Hafi