Transformasi Prodi TI-DG ASIA Malang

Berkat perjuangan STMIK Asia yang luar biasa akhirnya Asia mendapat persetujuan dari Dikti untuk mendapatkan prodi baru yaitu Desain Komunikasi Visual.

107
Transformasi Prodi TI-DG ASIA Malang
Gambar Ilustrasi

Dalam mengembangkan mutu, Perti Asia Malang terus berkomitmen menggali potensi yang ada dan terus melangkah ke depan. Oleh karena itu, Kamis (16/06/2016), Perti mengajak mahasiswa TI-DG (Teknik Informatika konsentrasi Desain Grafis dan Multimedia) dengan seluruh angkatan untuk sharing dan diskusi di Ruang Teater Kampus Pusat dan dihadiri oleh beberapa petinggi Perti, seperti Yunus Handoko selaku Ketua Penjaminan Mutu dan Direktur Pelayanan, Ketua STMIK-STIE Asia Ir. Teguh Widodo, M.M., Kaprodi TI Rina Dewi Indahsari, S.Kom., M.Kom., Sekprodi TI-DG Handry Rochmad Dwi Happy, S.Sn., M.Sn., dan dosen-dosen STMIK lainnya.

Hal yang menjadi perhatian Pak Yunus adalah adanya karya mahasiswa TI-DG Asia dalam menyampaikan aspirasinya dengan karya “Jangan Sepelekan Kami”, sehingga ia merasa perlu mengadakan sharing dan diskusi dengan mahasiswa. Selama ini, Prodi TI-DG dan Multimedia, masih menginduk pada mata kuliah Teknik Informatika dengan gelar S.Kom. Karena aturan dari Lembaga Dikti, mata kuliah konsentrasi tidak boleh lebih besar dari mata kuliah induknya, yaitu mata kuliah konsentrasi 40% dan mata kuliah induknya 60%.

Menurut Pak Teguh, berkat perjuangan STMIK Asia yang luar biasa akhirnya Asia mendapat persetujuan dari Dikti untuk mendapatkan prodi baru yaitu Desain Komunikasi Visual. “Alhamdulillah dalam seminggu kemarin ini, kami mendapatkan informasi dari Dikti bahwa Asia disetujui mendapatkan prodi baru yaitu Desain Komunikasi Visual,” ujar Pak Teguh. Namun prodi baru ini masih menunggu SK (Surat Keputusan) dari BAN PT secara resmi keluar.

Perjuangan dari tahun 2006 ini akhirnya dapat terwujud sesuai yang diharapkan.  Namun kendalanya, Desain Komunikasi Visual tidak mampu mewadahi keseluruhan penyelenggaraan kurikulum TI-DG Asia, sehingga perlu adanya transisi konversi yang memungkinkan untuk ditransisikan atau dikonversi adalah angkatan 2014 ke atas (2015, 2016, 2017, dst). Sedangkan angkatan 2013 kebawah (2012, 2011, dst) tidak memungkinkan untuk ditransisikan di prodi baru. Jadi tetap meneruskan sesuai induk Teknik Informatika.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan dalam menyelesaikan TA dan skripsi, Perti Asia membuat unit baru yaitu Klinik Tuntas Skripsi dan TA (Tuntunan Tahap Akhir Selesai Skripsi dan TA). Para dosen akan stand by setiap saat sehingga mempermudah mahasiswa untuk melakukan revisi atau bimbingan setelah melakukan bimbingan dengan pihak pembimbing dan diharapkan mahasiswa dapat menyelesaikan skripsi lebih cepat.

Dalam upaya meningkatkan kualitas mahasiswa, Pak Yunus memerintahkan kepada Sekprodi untuk mengkonsentrasikan mahasiswa di bidang karya, mengkompetisikan mahasiswa dengan biaya Perti, dan diadakannya workshop untuk menambahan skill mahasiswa. Selain itu, akan ada perubahan metode yang segera dirapatkan dengan Kaprodi dan Sekprodi, bahwa untuk TK semua bersifat klasikal (tidak ada mata kuliah mandiri), karena selama ini mata kuliah mandiri dengan pembimbingan semi TA.

Maksud dari klasikal adalah dimasukkan ke dalam ruangan dan pada saat pengambilan SKS TA, mahasiswa langsung studi lapangan dan mengerjakan projek. Diharapkan semua mahasiswa selama satu semester menempuh TK, hasilnya adalah proposal sehingga dapat selesai tepat waktu.

Mahasiswa tampak antusias menyampaikan aspirasinya kepada birokrasi kampus, salah satunya terkait dengan alasan pemilihan DKV sebagai prodi baru. “Karena prodi awalnya TI-DG dan Multimedia, Dikti merujuk kecocokannya adalah Desain Komunikasi Visual (DKV) dengan  gelar yang masih belum mendapatkan rujukan resmi, apakah gelarnya S.Kom., S.Sn., atau S.Art.,” jawab Pak Yunus.

Antusias mahasiswa semakin bergejolak ketika ada kepastian dan komitmen kampus untuk melangkah lebih baik demi kualitas mahasiswa yang mumpuni. Setelah sharing dan diskusi selama satu setengah jam selesai, Perti Asia menawarkan kepada seluruh mahasiswa yang telah hadir untuk berbuka bersama.

Penulis: Vany Restyana
Editor: Diana Sofah