Tuntutan Massa di Balai Kota

43
Tuntutan Massa di Balai Kota
Aksi protes-massa tergabung dalam Aliansi Malang Peduli Kendeng, Kamis (23/03). Massa juga menggelar aksi keprihatinan atas meninggalnya petani Kendeng, Ny Patmi. Pada aksi tersebut, para pendemo menggunakan pakaian serba hitam, payung hitam, dan membawa sejumlah poster. (Foto: Kenup/API)

LPM-API.ORG, MALANG – Dalam aksi di Malang ini, terdapat empat tuntutan yang mereka sampaikan. Pertama, mendesak pemerintahan Jokowi-JK menghentikan izin operasi PT Semen Indonesia di Kendeng. Kedua, memita pemerintahan Jokowi-JK menghetikan proyek infrastruktur yag mengusir dan meminggirkan rakyat dari ruang hidupnya. Ketiga, mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo taat hukum terhadap putusan MA dan membatalkan izin lingkungan dalam kegiatan penambangan. Keempat, mendesak pemerintahan Jokowi-JK menjalankan kedaulatan politik dan ekonomi untuk rakyat.

“Permasalahan di Kendeng ini adalah hanya salah satu dari sekian banyak dari ketidakbenaran, ketidakberesan mengenai agraria. Pembangunan kemudian hanya menguntungkan sebagian hasil masyarakat saja. Ganjar Pranowo selaku gubernur Jawa Tengah pun dia membangkang hukum. Yang jelas ini sangat merugikan masyarakat lemah,” ungkap M. Iqbal selaku korlap aksi.

“Yang kami tuju adalah pembebasan dimana rakyat kendeng yang didiskriminasi dan dilemahkan dengan dalih pembangunan yang seperti itu. Ini adalah salah satu cara kami dengan menggalang dana yang akan diberikan untuk transport yang masih berjuang di Jakarta. Aksi solidaritas ini akan terus mengawal permasalahan sampai pada akirnya masyarakat menang,” tambahnya.

Aksi ibu Patmi (48) merupakan contoh dalam bentuk aksi perlawanan yang gigih. Beliau yang sebelumnya dinyatakan sehat oleh tim dokter, Selasa (21/03) dini hari, badannya kejang-kejang dan muntah hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit St. Carolus Salemba. Namun akhirnya ibu Patmi meninggal saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Jenazah di pulangkan ke desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati untuk dimakamkan di desanya.

Penulis: Innawati Soleka